Dear, Niniku sayang
Assalammualaikum Wr. Wb..
Halooo! Apa kabar semuanyaaa? Semoga semua baik-baik aja yaa!
Wah, udah lama banget sih gak cerita-cerita or sharing apapun disini. Kyk sebenernya banyak banget yang mau ditulis, cuma kemageranku lebih tinggi ketimbang keinginanku ini. Kayak.. bisa gak sih yang ada dipikiran langsung ketulis semua tanpa harus diketik?! :(
Aku mau cerita-cerita tentang apa yang aku alami akhir-akhir ini. Sedih banget. Hati ini hancur. Hancur melihat seseorang yang aku super sayang dari kecil harus pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Raganya sudah tidak akan ada menemaniku, tapi aku yakin Dia akan selalu ada didalam hatiku. (Jujur, nulis ini aja udah mau berlinang air mata)
Nini...
Iya, Niniku yang tinggal satu2nya baru aja 9 hari yang lalu meninggal. Pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini untuk menghadap Allah, sang Pemilik dan Pencipta-Nya.
Bener-bener masih gak percaya Nini udah gak ada. Terasa beda banget pas ke Cipinang (rumah Tanteku, Tante Novi, dimana udah 8 tahun Nini tinggal disitu), biasanya.. kalau baru aja sampe Cipinang, langsung cium tangan Nini, cipika cipiki cium jidat, peluk2, cubit2 Nini. Dan Nini langsung nanya "Kamu apa kabar? Sama siapa?" :(
Inget banget, tahun lalu, waktu lagi liburan bareng Rempong ke Rancaupas. Kita lagi nginep disalah satu Rumah Kayu di daerah Rancaupas, malem-malem ketika semua sudah tertidur pulas... aku pun juga. Tiba-tiba entah, aku mimpi, mimpi yang aku bener-bener gak bisa bayangin kalau itu akan terjadi padaku (saat itu), yang membuat 4 orang temanku langsung terbangun. Iya, mereka terbangun karena suara tangisanku yang sesugukan sampe (katanya) teriak2. Mimpi apa aku itu?? Aku mimpi Nini gak ada, Nini meninggal, Nini pergi. Aku mimpi Nini meninggal disaat aku lagi berpergian jauh yang membuat aku tidak bisa segera pulang untuk liat Nini secepatnya, disitu yang membuat hatiku sesak, sakit, dan menangis sesugukan. Tapi, semua teman-temanku yang terbangun langsung menenangkanku. Aku inget, itu terjadi November 2018 lalu.
Setaun lebih sebulan kemudian, mimpiku jadi nyata.
Nini tidak ada. Nini pergi.
Nini memang sudah sangat tua. Nini sudah renta. Kasihan juga melihat Nini harus tetap ada, kalau memang kondisinya tidak memungkinkan. Hampir sebulan sebelum kepergiannya, Nini cuma bisa tiduran aja, dan bolak balik Fisioterapi. Nini sudah tidak mau makan, nafsu makannya mulai berkurang. Badannya sudah sakit-sakit. Nini pun sudah sering mengeluh cape. Tiap aku datang, yang tidak henti Nini tanyakan hanyalah, "Kamu kapan nikah? Kamu kapan ketemu jodohnya?" yang Nini inginkan dariku hanyalah aku menikah. Sudah beberapa tahun terakhir Nini ingin melihat aku menikah, tetapi sebulan terakhir sebelum kepergiannya, Nini bilang, "Nini cape, Nini duluan ya Dhea, Nini cape nunggu kamu.. Kamu belum ketemu jodoh. Doa aja terus ya." Nini tidak henti-hentinya menyarankan aku untuk terus berdoa dan berikhtiar supaya aku cepat dipertemukan dengan jodoh, Nini selalu memberikan aku nasehat dan saran untuk selalu membaca doa. Apapun itu. Dan Alhamdulillah, InsyaAllah aku akan selalu menjalankan amanatnya.
Ketika itu..
19 Desember 2019.
Tepat 17 Tahun, Alm. Ato' Hasan Taherku, suami Almh. Nini Etna Masnunku, meninggal. Dan tepat ditanggal itu pula, Nini memejamkan matanya dan tidak terbuka lagi hingga waktu dimana Ia dipanggil Yang Maha Kuasa.
Tepat ditanggal 19 Desember 2019, Nini tertidur dan tidak bangun-bangun.
Menjelang Isya, aku yang sedang bercengkrama dengan teman-teman kantorku, tiba-tiba mendapatkan telepon dari sepupuku, Rahma, yang biasa aku panggil Bebeb. Dia menanyakan keberadaanku dan menyuruhku untuk membuka Group Whatsapp Keluarga. Tanpa ba-bi-bu, aku langsung buka group dan aku pun langsung lemes syok bingung harus apa. Karena, disitu, Tante Novi bilang Nini benar-benar tidak bangun-bangun, sudah dicoba dibangunin, sudah dicoba disentuh apapun tidak ada reaksi sama sekali.
Aku, yang bingung harus apa. Langsung disuruh pulang sama teman-temanku. Aku panik, bingung. Sampe yang tadinya masih pake sendal, aku pun gak sempet ganti sepatu karena takut lama, buru-buru cari ojol, dan sepanjang jalan yang aku bisa lakukan hanya istigfar dan baca ayat kursi. Pikiranku kemana-mana. Gak karuan. Gak tenang. Gak tau harus apa. Aku masih belum bisa terima kalau hari itu juga Nini pergi.
Sesampainya di Cipinang, aku dan Bebeb langsung ke dokter deket rumah untuk minta tolong periksa keadaan Niniku. Aku tiduran disamping Nini, aku panggil-panggil Nini, aku cium-cium Nini, aku elus-elus mukanya, aku pegang tangannya, tidak ada reaksi. Long story short, Nini disarankan dibawa ke UGD. Di UGD, Nini disarankan untuk check MRI. Semua kondisi tensi, gula darah pun normal. Hanya detak jantungnya kadang melemah kadang tidak. Semua keluarga datang ke rumah sakit, hanya untuk menemani Nini yang ada di UGD, yang tidak semuanya pun bisa masuk. Kita menunggu hingga dini hari. Aku lupa tepatnya jam berapa, karena aku sudah tidak bisa apa-apa. Pikiranku super gak tenang saat itu, melihat Nini hanya bisa menangis.
Dokterpun menyarankan untuk Nini dibawa pulang saja, dan dibantu oleh tabung Oksigen untuk pernapasannya, karena takut malah makin menurun. Kita semua pun mengikuti saran dokter. Aku memutuskan untuk menginap, karena... seringkali sebulan terakhir ini Nini memintaku untuk menginap dan tidur disampingnya, cuma karena waktunya selalu tidak tepat dan aku tidak sempat, aku pun tidak bisa menginap. Dan hari itu, aku memaksa diriku untuk menginap walau sebenarnya aku tidak bawa persiapan apa-apa untuk menginap sedangkan besoknya aku tetap harus masuk kerja. Aku memaksa diriku, karena aku tidak mau menyesal. Aku ingin tidur samping Nini (mungkin untuk terakhir kalinya), aku tidak mau menyesal seumur hidupku nanti. Aku peluk Nini, aku genggam tangannya sebelum tidur, aku cium kening dan pipinya sebelum tidur. Berharap besok Niniku bangun dari tidurnya. Aku sempat berbisik, "Nini... tidurnya enak banget. Cape ya Ni dari kemaren tidurnya susah? Nini lagi mimpi apa si, ko gak bangun-bangun? Mimpi indah ya? Ketemu Ato' ya Ni? Nini bangun yaa.. Ini ea tidur sama Nini, ea tidur disamping Nini.."
Besoknya, aku tetap ke kantor. Karena, memang ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sedari pagi, pikiranku tidak karuan, hatiku tidak tenang. Ragaku ada di kantor, tapi pikiranku hanya berputar-putar tentang Nini. Kerja pun tidak fokus, makan pun tidak nafsu. Dan tepat dihari Jumat itu, harusnya aku akan ada meeting dengan atasanku. Tetapi, tiba-tiba, sehabis makan siang aku dapat kabar Niniku semakin menurun. Meneteslah air mataku, tanpa pikir panjang, aku langsung izin untuk pulang lebih cepat karena Nini ku (bisa dibilang) dalam keadaan kritis. Sepanjang jalan, aku hanya bisa menangis dan berdoa yang terbaik untuk Nini.
Memang, kondisi Nini semakin menurun, Nini masih tidur dan masih tidak ada reaksi yang signifikan. Aku hanya bisa berdoa dan duduk disamping Nini. Berharap semua baik-baik saja, berdoa yang terbaik untuk Nini.
21 Desember 2019.
1 Hari sebelum hari Ibu.
Pagi-pagi aku sudah datang ke Cipinang, aku cium tangan Nini, aku cium pipi kanan dan kiri serta keningnya seperti biasa. Hanya sebentar, hanya sebentar aku mampir ke Cipinang. Hanya sebentar aku tiduran disamping Nini, lalu aku pamit pergi. Aku berbisik ke Nini, "Ni.. maafin ea belum bisa memperkenalkan calon ea ke Nini, maafin ea belum bisa mewujudkan keinginan Nini melihat ea menikah. Maafin ea membuat Nini nunggu terlalu lama. Doain ea ya, Ni. Semoga ea bisa ketemu dengan jodoh ea secepatnya diwaktu yang tepat, supaya Nini bisa lihat ea nikah. Nini jangan kemana-mana dulu ya, Ni. Doain ea ya Ni. Ea sayang Nini, ea pamit sebentar ya Ni, nanti sore ea balik lagi ke sini. Nini jangan pergi dulu ya." kata-kata itu yang bisa aku ucapkan ke Nini. Mungkin itu kata-kata terakhir ku yang super panjang ke Nini. Menangis meninggalkan Nini saat itu.
Sorenya, aku panik. Nini semakin menurun kondisinya, jantungnya semakin lemah, oksigen sudah tidak bisa membantu, tensi eror. Aku yang masih dalam perjalanan pulang udah gak tenang. Hanya bisa berdoa untuk Nini dalam hati, dan hanya bisa memperlihatkan ketenangan didepan orang yang sedang bersamaku kala itu. Padahal, hatiku menangis dan hancur. Iya, Nini masih belum tau keadaan pastinya bagaimana, tapi mendengar berita itu saja hatiku sudah hancur. Yang kubutuhkan saat itu hanya ketenangan dan pelukan hangat agar aku bisa tegar. Sepanjang jalan aku gak berani buka whatsapp dari group keluarga, aku gak mau dengar berita tidak mengenakan saat itu. Karena aku masih belum bisa terima.
Sesampainya di Cipinang....
Aku langsung lari ke kamar. Melihat dan mendengar tangisan dari semua orang. Nini sudah tidak ada, Hatiku benar-benar hancur berkeping-keping. Tangisanku tidak bisa dibendung. Saat itu, aku masih belum bisa terima. Aku hanya bisa memandangi Nini sambil menangis, dan meminta maaf dalam hati berharap Nini mendengarnya. Andai saja, pagi tadi aku tidak pergi. Andai saja, pagi tadi aku ada disamping Nini hingga saat Nini tidak ada. Sakit banget hati ini melihat Nini tidak ada. Melihat seseorang yang setiap minggu selalu aku kunjungi, melihat seseorang yang selalu aku cubit-cubit, aku cium-cium pipinya, aku mainin kulitnya, aku mainin rambutnya, aku peluk-peluk badannya, sudah tidak ada lagi untuk selama-lamanya, Nini yang sering aku telepon hanya untuk menanyakan kabar dan sedang apa saat itu, Nini yang tidak pernah absen juga menelepon disaat aku ulang tahun, Nini yang selalu mengingatkanku akan ibadah, mengingatkanku akan berdoa dan berharap kepada Allah, Nini yang belum bisa aku bahagiakan, Nini yang keinginannya melihat aku menikah belum bisa aku wujudkan. Aku hanya bisa duduk disamping tempat tidur Nini, sambil menangis dan meminta maaf tiada henti dalam hati, hanya bisa melamun melihat Nini tanpa tabung oksigen, dan tangan yang sudah mulai pucat dan dingin.
Aku pun sempat tidur disamping jenazah Nini yang sudah dikafani diruang tamu, menemani Nini tidur untuk terakhir kalinya bersamaku. Paginya, saat mandi.. aku ingat sekali, beberapa kali aku membantu Nini untuk mandi, bantu Nini sabunan, sikat gigi, shampoan. Ya, itu tidak akan terjadi lagi. Tangisanku pun pecah kembali, saat untuk terakhir kalinya anggota keluarga diberi kesempatan untuk mencium Nini sebelum akan dibawa ke pemakaman. Aku sempat dilarang untuk mencium Nini, karena takut air mataku tidak bisa ditahan dan jatuh ke Nini. Tapi, aku mencoba menguatkan diriku sendiri untuk tetap bisa memeluk dan mencium Nini untuk yang terakhir kalinya. Menguatkan diriku untuk tegar dan ikhlas menerima kenyataan ini.
Sudah cukup..
Tidak sanggup lagi aku menulis dan berbagi cerita untuk sekarang tentang Niniku.
Melalui blog ini, aku hanya ingin cerita aja apa yang telah aku alami sekarang ini.
Mungkin ini tidak berarti untuk kalian yang membacanya, tapi ini sangat berarti bagiku. Nini adalah hidupku. Selain papa & mama, Nini adalah hidupku. Salah satu motivasi dan keinginanku dan cita-citaku adalah membahagiakan orang tua serta Niniku. Yang belum bisa aku capai saat ini adalah aku belum bisa membahagiakan Nini dan membuat Nini bangga akan diriku. Sempat aku berdoa, aku ingin memperkenalkan Nini dengan calonku sebelum Nini tiada, namun apa daya, manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. Jalan Allah adalah jalan yang paling indah dan paling baik. Aku belum sempat memperkenalkan calonku kepada Nini, memang sampai saat ini pun aku belum memilikinya. Aku hanya berdoa, ya Allah semoga Nini bisa melihatku nanti saat aku menikah nanti, semoga Nini akan hadir dihari pernikahanku nanti.
"Ni.. apa kabar? Bagaimana disana? Bahagia kah? Sudah bertemu dengan Ato' belum? Sudah bertemu dengan Wa Nining, Bude Rani, dan adek Isha belum? Ni, maaf seribu maaf yang bisa ea ucapkan ke Nini, maaf kala itu ea tidak ada disamping Nini hingga Nini tidak ada, doa ea akan selalu menyertai Nini, maaf ea belum bisa membahagiakan Nini. Maaf ea belum bisa mewujudkan keinginan Nini, maaf kalau Nini menunggu terlalu lama hingga Nini lelah dan cape. Maaf, Ni, jika selama ini selalu berbuat salah, jika belum bisa membuat Nini bangga sama ea. Ni, doain ea ya Ni, semoga dipertemukan dengan jodoh, kapanpun waktunya itu, ea akan menunggunya, Ni. Niniku sayang, ea rindu Nini. Salam rindu untuk, Ato', Wa Nining, Bude Rani dan Adek Isha dari Ea ya Ni... Ni, i love you. "
Tuhan, jangan ajarkan aku takut akan kehilangan, ajarkan aku melepas tanpa penyesalan.
Sayangilah orang-orang yang ada disekitarmu, sayangilah orang-orang yang sayang kepadamu. Jangan sampai kau sia-siakan hidupmu, jangan sampai kau menyesal atas apa yang kau perbuat. Sayangilah dan bahagiakanlah orang tua dan keluargamu selagi kau bisa. Karena kita tidak pernah tau, kapan maut akan memisahkan kita dengan orang-orang yang kita sayang.
Salam,
XOXO
Halooo! Apa kabar semuanyaaa? Semoga semua baik-baik aja yaa!
Wah, udah lama banget sih gak cerita-cerita or sharing apapun disini. Kyk sebenernya banyak banget yang mau ditulis, cuma kemageranku lebih tinggi ketimbang keinginanku ini. Kayak.. bisa gak sih yang ada dipikiran langsung ketulis semua tanpa harus diketik?! :(
Aku mau cerita-cerita tentang apa yang aku alami akhir-akhir ini. Sedih banget. Hati ini hancur. Hancur melihat seseorang yang aku super sayang dari kecil harus pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Raganya sudah tidak akan ada menemaniku, tapi aku yakin Dia akan selalu ada didalam hatiku. (Jujur, nulis ini aja udah mau berlinang air mata)
Nini...
Iya, Niniku yang tinggal satu2nya baru aja 9 hari yang lalu meninggal. Pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini untuk menghadap Allah, sang Pemilik dan Pencipta-Nya.
Bener-bener masih gak percaya Nini udah gak ada. Terasa beda banget pas ke Cipinang (rumah Tanteku, Tante Novi, dimana udah 8 tahun Nini tinggal disitu), biasanya.. kalau baru aja sampe Cipinang, langsung cium tangan Nini, cipika cipiki cium jidat, peluk2, cubit2 Nini. Dan Nini langsung nanya "Kamu apa kabar? Sama siapa?" :(
Inget banget, tahun lalu, waktu lagi liburan bareng Rempong ke Rancaupas. Kita lagi nginep disalah satu Rumah Kayu di daerah Rancaupas, malem-malem ketika semua sudah tertidur pulas... aku pun juga. Tiba-tiba entah, aku mimpi, mimpi yang aku bener-bener gak bisa bayangin kalau itu akan terjadi padaku (saat itu), yang membuat 4 orang temanku langsung terbangun. Iya, mereka terbangun karena suara tangisanku yang sesugukan sampe (katanya) teriak2. Mimpi apa aku itu?? Aku mimpi Nini gak ada, Nini meninggal, Nini pergi. Aku mimpi Nini meninggal disaat aku lagi berpergian jauh yang membuat aku tidak bisa segera pulang untuk liat Nini secepatnya, disitu yang membuat hatiku sesak, sakit, dan menangis sesugukan. Tapi, semua teman-temanku yang terbangun langsung menenangkanku. Aku inget, itu terjadi November 2018 lalu.
Setaun lebih sebulan kemudian, mimpiku jadi nyata.
Nini tidak ada. Nini pergi.
Nini memang sudah sangat tua. Nini sudah renta. Kasihan juga melihat Nini harus tetap ada, kalau memang kondisinya tidak memungkinkan. Hampir sebulan sebelum kepergiannya, Nini cuma bisa tiduran aja, dan bolak balik Fisioterapi. Nini sudah tidak mau makan, nafsu makannya mulai berkurang. Badannya sudah sakit-sakit. Nini pun sudah sering mengeluh cape. Tiap aku datang, yang tidak henti Nini tanyakan hanyalah, "Kamu kapan nikah? Kamu kapan ketemu jodohnya?" yang Nini inginkan dariku hanyalah aku menikah. Sudah beberapa tahun terakhir Nini ingin melihat aku menikah, tetapi sebulan terakhir sebelum kepergiannya, Nini bilang, "Nini cape, Nini duluan ya Dhea, Nini cape nunggu kamu.. Kamu belum ketemu jodoh. Doa aja terus ya." Nini tidak henti-hentinya menyarankan aku untuk terus berdoa dan berikhtiar supaya aku cepat dipertemukan dengan jodoh, Nini selalu memberikan aku nasehat dan saran untuk selalu membaca doa. Apapun itu. Dan Alhamdulillah, InsyaAllah aku akan selalu menjalankan amanatnya.
Ketika itu..
19 Desember 2019.
Tepat 17 Tahun, Alm. Ato' Hasan Taherku, suami Almh. Nini Etna Masnunku, meninggal. Dan tepat ditanggal itu pula, Nini memejamkan matanya dan tidak terbuka lagi hingga waktu dimana Ia dipanggil Yang Maha Kuasa.
Tepat ditanggal 19 Desember 2019, Nini tertidur dan tidak bangun-bangun.
Menjelang Isya, aku yang sedang bercengkrama dengan teman-teman kantorku, tiba-tiba mendapatkan telepon dari sepupuku, Rahma, yang biasa aku panggil Bebeb. Dia menanyakan keberadaanku dan menyuruhku untuk membuka Group Whatsapp Keluarga. Tanpa ba-bi-bu, aku langsung buka group dan aku pun langsung lemes syok bingung harus apa. Karena, disitu, Tante Novi bilang Nini benar-benar tidak bangun-bangun, sudah dicoba dibangunin, sudah dicoba disentuh apapun tidak ada reaksi sama sekali.
Aku, yang bingung harus apa. Langsung disuruh pulang sama teman-temanku. Aku panik, bingung. Sampe yang tadinya masih pake sendal, aku pun gak sempet ganti sepatu karena takut lama, buru-buru cari ojol, dan sepanjang jalan yang aku bisa lakukan hanya istigfar dan baca ayat kursi. Pikiranku kemana-mana. Gak karuan. Gak tenang. Gak tau harus apa. Aku masih belum bisa terima kalau hari itu juga Nini pergi.
Sesampainya di Cipinang, aku dan Bebeb langsung ke dokter deket rumah untuk minta tolong periksa keadaan Niniku. Aku tiduran disamping Nini, aku panggil-panggil Nini, aku cium-cium Nini, aku elus-elus mukanya, aku pegang tangannya, tidak ada reaksi. Long story short, Nini disarankan dibawa ke UGD. Di UGD, Nini disarankan untuk check MRI. Semua kondisi tensi, gula darah pun normal. Hanya detak jantungnya kadang melemah kadang tidak. Semua keluarga datang ke rumah sakit, hanya untuk menemani Nini yang ada di UGD, yang tidak semuanya pun bisa masuk. Kita menunggu hingga dini hari. Aku lupa tepatnya jam berapa, karena aku sudah tidak bisa apa-apa. Pikiranku super gak tenang saat itu, melihat Nini hanya bisa menangis.
Dokterpun menyarankan untuk Nini dibawa pulang saja, dan dibantu oleh tabung Oksigen untuk pernapasannya, karena takut malah makin menurun. Kita semua pun mengikuti saran dokter. Aku memutuskan untuk menginap, karena... seringkali sebulan terakhir ini Nini memintaku untuk menginap dan tidur disampingnya, cuma karena waktunya selalu tidak tepat dan aku tidak sempat, aku pun tidak bisa menginap. Dan hari itu, aku memaksa diriku untuk menginap walau sebenarnya aku tidak bawa persiapan apa-apa untuk menginap sedangkan besoknya aku tetap harus masuk kerja. Aku memaksa diriku, karena aku tidak mau menyesal. Aku ingin tidur samping Nini (mungkin untuk terakhir kalinya), aku tidak mau menyesal seumur hidupku nanti. Aku peluk Nini, aku genggam tangannya sebelum tidur, aku cium kening dan pipinya sebelum tidur. Berharap besok Niniku bangun dari tidurnya. Aku sempat berbisik, "Nini... tidurnya enak banget. Cape ya Ni dari kemaren tidurnya susah? Nini lagi mimpi apa si, ko gak bangun-bangun? Mimpi indah ya? Ketemu Ato' ya Ni? Nini bangun yaa.. Ini ea tidur sama Nini, ea tidur disamping Nini.."
Besoknya, aku tetap ke kantor. Karena, memang ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sedari pagi, pikiranku tidak karuan, hatiku tidak tenang. Ragaku ada di kantor, tapi pikiranku hanya berputar-putar tentang Nini. Kerja pun tidak fokus, makan pun tidak nafsu. Dan tepat dihari Jumat itu, harusnya aku akan ada meeting dengan atasanku. Tetapi, tiba-tiba, sehabis makan siang aku dapat kabar Niniku semakin menurun. Meneteslah air mataku, tanpa pikir panjang, aku langsung izin untuk pulang lebih cepat karena Nini ku (bisa dibilang) dalam keadaan kritis. Sepanjang jalan, aku hanya bisa menangis dan berdoa yang terbaik untuk Nini.
Memang, kondisi Nini semakin menurun, Nini masih tidur dan masih tidak ada reaksi yang signifikan. Aku hanya bisa berdoa dan duduk disamping Nini. Berharap semua baik-baik saja, berdoa yang terbaik untuk Nini.
21 Desember 2019.
1 Hari sebelum hari Ibu.
Pagi-pagi aku sudah datang ke Cipinang, aku cium tangan Nini, aku cium pipi kanan dan kiri serta keningnya seperti biasa. Hanya sebentar, hanya sebentar aku mampir ke Cipinang. Hanya sebentar aku tiduran disamping Nini, lalu aku pamit pergi. Aku berbisik ke Nini, "Ni.. maafin ea belum bisa memperkenalkan calon ea ke Nini, maafin ea belum bisa mewujudkan keinginan Nini melihat ea menikah. Maafin ea membuat Nini nunggu terlalu lama. Doain ea ya, Ni. Semoga ea bisa ketemu dengan jodoh ea secepatnya diwaktu yang tepat, supaya Nini bisa lihat ea nikah. Nini jangan kemana-mana dulu ya, Ni. Doain ea ya Ni. Ea sayang Nini, ea pamit sebentar ya Ni, nanti sore ea balik lagi ke sini. Nini jangan pergi dulu ya." kata-kata itu yang bisa aku ucapkan ke Nini. Mungkin itu kata-kata terakhir ku yang super panjang ke Nini. Menangis meninggalkan Nini saat itu.
Sorenya, aku panik. Nini semakin menurun kondisinya, jantungnya semakin lemah, oksigen sudah tidak bisa membantu, tensi eror. Aku yang masih dalam perjalanan pulang udah gak tenang. Hanya bisa berdoa untuk Nini dalam hati, dan hanya bisa memperlihatkan ketenangan didepan orang yang sedang bersamaku kala itu. Padahal, hatiku menangis dan hancur. Iya, Nini masih belum tau keadaan pastinya bagaimana, tapi mendengar berita itu saja hatiku sudah hancur. Yang kubutuhkan saat itu hanya ketenangan dan pelukan hangat agar aku bisa tegar. Sepanjang jalan aku gak berani buka whatsapp dari group keluarga, aku gak mau dengar berita tidak mengenakan saat itu. Karena aku masih belum bisa terima.
Sesampainya di Cipinang....
Aku langsung lari ke kamar. Melihat dan mendengar tangisan dari semua orang. Nini sudah tidak ada, Hatiku benar-benar hancur berkeping-keping. Tangisanku tidak bisa dibendung. Saat itu, aku masih belum bisa terima. Aku hanya bisa memandangi Nini sambil menangis, dan meminta maaf dalam hati berharap Nini mendengarnya. Andai saja, pagi tadi aku tidak pergi. Andai saja, pagi tadi aku ada disamping Nini hingga saat Nini tidak ada. Sakit banget hati ini melihat Nini tidak ada. Melihat seseorang yang setiap minggu selalu aku kunjungi, melihat seseorang yang selalu aku cubit-cubit, aku cium-cium pipinya, aku mainin kulitnya, aku mainin rambutnya, aku peluk-peluk badannya, sudah tidak ada lagi untuk selama-lamanya, Nini yang sering aku telepon hanya untuk menanyakan kabar dan sedang apa saat itu, Nini yang tidak pernah absen juga menelepon disaat aku ulang tahun, Nini yang selalu mengingatkanku akan ibadah, mengingatkanku akan berdoa dan berharap kepada Allah, Nini yang belum bisa aku bahagiakan, Nini yang keinginannya melihat aku menikah belum bisa aku wujudkan. Aku hanya bisa duduk disamping tempat tidur Nini, sambil menangis dan meminta maaf tiada henti dalam hati, hanya bisa melamun melihat Nini tanpa tabung oksigen, dan tangan yang sudah mulai pucat dan dingin.
Aku pun sempat tidur disamping jenazah Nini yang sudah dikafani diruang tamu, menemani Nini tidur untuk terakhir kalinya bersamaku. Paginya, saat mandi.. aku ingat sekali, beberapa kali aku membantu Nini untuk mandi, bantu Nini sabunan, sikat gigi, shampoan. Ya, itu tidak akan terjadi lagi. Tangisanku pun pecah kembali, saat untuk terakhir kalinya anggota keluarga diberi kesempatan untuk mencium Nini sebelum akan dibawa ke pemakaman. Aku sempat dilarang untuk mencium Nini, karena takut air mataku tidak bisa ditahan dan jatuh ke Nini. Tapi, aku mencoba menguatkan diriku sendiri untuk tetap bisa memeluk dan mencium Nini untuk yang terakhir kalinya. Menguatkan diriku untuk tegar dan ikhlas menerima kenyataan ini.
Sudah cukup..
Tidak sanggup lagi aku menulis dan berbagi cerita untuk sekarang tentang Niniku.
Melalui blog ini, aku hanya ingin cerita aja apa yang telah aku alami sekarang ini.
Mungkin ini tidak berarti untuk kalian yang membacanya, tapi ini sangat berarti bagiku. Nini adalah hidupku. Selain papa & mama, Nini adalah hidupku. Salah satu motivasi dan keinginanku dan cita-citaku adalah membahagiakan orang tua serta Niniku. Yang belum bisa aku capai saat ini adalah aku belum bisa membahagiakan Nini dan membuat Nini bangga akan diriku. Sempat aku berdoa, aku ingin memperkenalkan Nini dengan calonku sebelum Nini tiada, namun apa daya, manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. Jalan Allah adalah jalan yang paling indah dan paling baik. Aku belum sempat memperkenalkan calonku kepada Nini, memang sampai saat ini pun aku belum memilikinya. Aku hanya berdoa, ya Allah semoga Nini bisa melihatku nanti saat aku menikah nanti, semoga Nini akan hadir dihari pernikahanku nanti.
"Ni.. apa kabar? Bagaimana disana? Bahagia kah? Sudah bertemu dengan Ato' belum? Sudah bertemu dengan Wa Nining, Bude Rani, dan adek Isha belum? Ni, maaf seribu maaf yang bisa ea ucapkan ke Nini, maaf kala itu ea tidak ada disamping Nini hingga Nini tidak ada, doa ea akan selalu menyertai Nini, maaf ea belum bisa membahagiakan Nini. Maaf ea belum bisa mewujudkan keinginan Nini, maaf kalau Nini menunggu terlalu lama hingga Nini lelah dan cape. Maaf, Ni, jika selama ini selalu berbuat salah, jika belum bisa membuat Nini bangga sama ea. Ni, doain ea ya Ni, semoga dipertemukan dengan jodoh, kapanpun waktunya itu, ea akan menunggunya, Ni. Niniku sayang, ea rindu Nini. Salam rindu untuk, Ato', Wa Nining, Bude Rani dan Adek Isha dari Ea ya Ni... Ni, i love you. "
Tuhan, jangan ajarkan aku takut akan kehilangan, ajarkan aku melepas tanpa penyesalan.
Sayangilah orang-orang yang ada disekitarmu, sayangilah orang-orang yang sayang kepadamu. Jangan sampai kau sia-siakan hidupmu, jangan sampai kau menyesal atas apa yang kau perbuat. Sayangilah dan bahagiakanlah orang tua dan keluargamu selagi kau bisa. Karena kita tidak pernah tau, kapan maut akan memisahkan kita dengan orang-orang yang kita sayang.
Salam,
XOXO

Comments
Post a Comment